This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Thursday, 16 August 2018

Analisis Hidrologi


1.1. Analisis Hidrologi

a)    Analisis ketersediaan air, kehilangan air dan water balance.
Jenis tanah disekitar lokasi genangan embung adalah berupa gravel dengan bercampur lanau. Jenis tanah semacam ini sangat porous, sehingga akan banyak air yang hilang akibat rembesan baik vertical maupun horizontal. Untuk itu analisis water balance sangat perlu sekali dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat penyimpanan air oleh embung. Jika ternyata losses akibat rembesan sangat besar dibandingkan debit yang masuk ke waduk, maka perlu dilakukan treatment pada dasar maupun dinding kolam sedemikian sehingga water balance yang direncanakan, khususnya dimusim kemarau dapat dicapai. Water balance tersebut meliputi :
(1)  Debit Aliran Masuk (Inflow)
Debit aliran masuk ke embung (inflow) terjadi akibat hujan yang jatuh di daerah tangkapan dan di atas kolam embung itu sendiri. Sebagai pendekatan untuk menghitung inflow pada daerah tangkapan yang relatif kecil dan data aliran yang relatif tidak tersedia dapat dilakukan dengan menggunakan rumus rasional.

Vj   = 10Cj RA

dengan :
Vj          =  Aliran bulanan dari seluruh daerah tadah hujan untuk bulan j (m3/det)
Rj         =  Curah hujan bulanan untuk bulan j (mm/bulan)
Cj         =  Koefisien pengaliran untuk bulan j
A          = Luas daerah tadah hujan efektif (ha), yaitu luas daerah tadah hujan             setelah dikurangi luas kolam  embung
V          =  Aliran masuk ke embung selama musim hujan (m3)
Nilai koefisien pengaliran (C) dapat ditentukan berdasarkan tinggi hujan bulanan dan kemiringan lahan.

(2)  Hujan Rata-rata bulanan
Daerah tangkapan hujan dan kolam embung relatif sangat kecil sehingga perkiraan aliran sudah cukup teliti bila diambil secara bulanan. Apalagi di daerah semi kering pada umumnya aliran dasar tidak ada dan embung tidak dibangun di sungai. Dalam keadaan seperti itu aliran masuk ke embung hanya dapat diperkirakan dari curah hujan. Curah hujan rata-rata bulanan dihitung melalui data dari pos hujan terdekat.

(3)  Evaporasi dan Evapotranspirasi Potensial
Evapotranspirasi potensial dan evaporasi hampir sama dari tahun ke tahun, dan dari satu lokasi ke lokasi lain di wilayah yang sama. Karena itu, dapat dipilih satu set evapotranspirasi penuh potensial yang mewakili seluruh wilayah.
Evapotranspirasi potensial adalah jumlah air yang dapat diuapkan bila ketersediaan air permukaan dan bawah permukaan dianggap berlebihan serta permukaan tanah ditutupi dengan jenis tanaman tertentu.
Sedangkan kehilangan air karena evapotranspirasi pada kondisi ketersediaan air dan penutup lahan yang sebenarnya sering disebut sebagai evapotranspirasi sebenarnya, nilainya lebih kecil atau sama dengan evapotranspirasi potensial.
Evapotranspirasi potensial dibutuhkan sebagai masukan untuk perhitungan debit bulanan, sedangkan penguapan dipakai untuk menghitung kapasitas embung yang diperlukan. Kedua parameter tersebut diperlukan dalam rata-rata bulanan.
(4)  Tampungan Embung
(a)  Kapasitas Tampungan
Embung yang akan dikembangkan diharapkan dapat menampung penuh air di musim hujan dan kemudian dioperasikan selama musim kemarau untuk melayani berbagai kebutuhan. Di daerah semi kering musim hujan akan berlangsung pendek 3-5 bulan, sedangkan musim kemarau berlangsung lebih dari 6 bulan, yaitu 7-9 bulan.
Dengan demikian kapasitas tampung embung yang dibutuhkan harus dapat memenuhi kebutuhan pada saat musim kemarau. Selain itu juga harus mempertimbangkan kehilangan air oleh penguapan di kolam dan resapan di dasar dan dinding kolam, serta menyediakan ruangan untuk sedimen. Jadi kapasitas tampung yang diperlukan (Vn) untuk semua embung adalah :
Vn                 = Vu + Ve + Vi + Vs
dengan :
Vn      = Kapasitas tampung total yang diperlukan suatu desa (m3)
Vu      = Volume hidup untuk melayani berbagai kebutuhan (m3)
Ve        = Jumlah penguapan kolam selama musim kering (m3)
Vi         = Jumlah resapan melalui dasar, dinding, dan tubuh embung                         selama musim kemarau (m3)
Vs        = Ruangan yang disediakan untuk sedimen (m3)
Namun demikian dalam menentukan kapasitas total suatu embung harus pula mempertimbangkan volume atau debit air yang tersedia (Vh) dan kemampuan topografi untuk menampung air (Vp). Apabila air yang tersedia atau kemampuan topografi kecil maka embung harus didesain dengan kapasitas yang lebih kecil dari pada kebutuhan maksimum suatu desa.
.
(b)  Ketersediaan Air
Air yang mengalir kedalam embung terdiri atas dua kelompok, yaitu Air permukaan dari seluruh daerah tadah hujan, dan Air hujan yang langsung jatuh di atas permukaan kolam. Dengan demikian jumlah air yang masuk ke dalam embung dapat dinyatakan seperti berikut ini.

Vh = SVj + 10 . .Akt . SRj

dengan :
Vh   =  Volume air yang dapat mengisi kolam embung  selama musim
           hujan (m3)
Vj    =  Aliran bulanan pada bulan j (m3/bulan)
SVj =  Jumlah aliran total selama musim hujan (m3)
Rj   =  Curah hujan bulanan pada bulan j (mm/bulan)
SRj =  Curah hujan total selama musim hujan (mm), curah hujan musim                             kemarau diabaikan
Akt  =  Luas permukaan kolam embung (Ha)
Volume air yang dapat mengisi embung (Vh) merupakan jumlah air maksimum yang dapat mengisi kolam embung. Oleh karena itu air yang tersedia ini harus dibandingkan dengan kapasitas tampung yang diperlukan (Vn) dalam menentukan kapasitas total/tinggi embung.

(c)  Kebutuhan Air dan Tampungan Hidup (Vu)
Berdasarkan penelitian Litbang Pengairan mengenai kebutuhan air untuk penduduk, hewan, dan kebun, maka dapat disimpulkan bahwa :
a. Kebutuhan air untuk penduduk Qp       =          150 l/hr/KK
b. Kebutuhan air untuk ternak Qh            =          200 l/hr/KK *)
c. Kebutuhan air untuk kebun                   =          450 l/hr/KK **)
Total Qu                                                     =          800 l/hari/KK
Dengan asumsi :
*)   Tiap KK dianggap memiliki 20 ekor ternak, KK = Kepala Keluarga
**) Tiap KK dianggap menggarap kebun seluas 200 m2
Kalau angka ini dianggap mewakili kebutuhan di daerah semi kering lainnya, maka kebutuhan total untuk tampungan hidup (Vu) adalah :

     Vu =  Jh  x  JKK x  Qu

Dengan :
JKK      = Jumlah KK per desa, data dapat diperoleh dari buku  statistik yang                 dikeluarkan Pemerintah Daerah setempat, atau survey  lapangan.
Jh         = Jumlah hari selama musim kemarau, yang secara praktis                    sebesar  8 bulan x 30 hari  =  240 hari
Qu        = Kebutuhan air untuk penduduk, ternak, dan kebun  (l/hari/KK)
Dengan memasukkan besaran diatas, maka :
Vu         = 240 x JKK x 800
            = 192000 JKK (dalam liter)
            = 192 JKK (dalam m3)

(d)  Ruang Sedimen ( Vs)
Ruang untuk sedimen perlu disediakan dikolam embung, Berdasarkan pengamatan, ruang sedimen diperkirakan setinggi 1.00 m diatas dasar kolam.
(e)  Jumlah Penguapan (Ve)
Di daerah semi kering penguapan dari kolam embung akan relatif cukup besar jumlahnya apalagi aliran masuk di musim kering tidak ada. Dengan demikian jumlah penguapan selama musim kemarau perlu diperhitungkan dalam penentuan kapasitas atau tinggi embung. Penguapan di permukaan kolam embung dapat dihitung secara sederhana seperti berikut ini.
Ve       =      10.Akt.SEkj
Dengan :
Ve   = Jumlah penguapan dari kolam embung selama musim kemarau (m3)
Akt  = Luas permukaan kolam embung pada setengah tinggi  (Ha)
Ekj  = Penguapan bulanan di musim kemarau pada bulan ke-1 (mm/bulan)

(f)   Jumlah Resapan (Vi)
Air dalam kolam embung akan meresap masuk kedalam pori atau rongga di dasar dan dinding kolam. Besarnya resapan ini tergantung dari sifat lulus air material dasar dan dinding kolam. Sedangkan sifat ini tergantung pada jenis butiran tanah atau struktur batuan pembentuk dasar dan dinding kolam. Secara teoritik perhitungan resapan air ini cukup rumit dan sulit dilakukan. Tetapi berdasarkan beberapa analisis, dapat ditentukan cara praktis  untuk menentukan besarnya resapan air kolam embung.
  Vi      =      K.Vu 
Dengan
Vi             = Jumlah resapan tahunan (m3)
Vu            = Jumlah air untuk berbagai kebutuhan (m3)
K             = Faktor, yang nilainya tergantung dari sifat lulus air  material dasar        dan dinding kolam embung.
K             = 10 %, bila dasar dan dinding kolam emnung praktis rapat air                           (k-10-5 cm/d), termasuk penggunaan lapisan batuan (selimut        lempung, geomembran, Rubber sheet, semen tanah)
K             = 25 %, bila dasar dan dinding kolam embung bersifat semi lulus air      (k = 10-3 - 10-4 cm/dt)

(g)  Menentukan Kapasitas Tampung Desain (Vd)
Untuk menentukan/memilih kapasitas tampung desain suatu embung (Vd) harus membandingkan ketiga hal, yaitu : Volume  tampungan yang diperlukan (Vn), untuk menyediakan:
·         Kebutuhan penduduk, hewan, dan kebun (Vu) di suatu desa
·         Volume cadangan untuk kehilangan air karena penguapan (Ve), dan resapan (Vi)
·         Ruangan untuk menampung sedimen (Vs)
·         Volume air yang tersedia (potensi) selama musim hujan (Vh), yang merupakan jumlah air maksimum yang dapat mengisi kolam embung,
·         Daya tampung (potensi) topografi untuk menampung air (Vp), yaitu volume maksimum kolam embung yeng terbentuk karena dibangunnya suatu embung.
Dari ketiga besaran tersebut, dipilih yang terkecil sebagai kapasitas tampung desain suatu embung (Vd). Bilamana Vh atau Vp yang menentukan, maka kemampuan embung melayani penduduk akan berkurang yaitu tidak sebesar yang diperlukan (Vn).  

Data yang Diperlukan dalam Pekerjaan Perencanaan Embung


Jenis Data
Uraian
Data Fisik
Sumberdaya Lahan
§  Klasifikasi Kesesuaian lahan
Hidrometereologi
§  Data hujan
§  Air permukaan
§  Air bawah permukaan
§  Klimatologi
Geografi fisik
§  Peta Administrasi, tataguna lahan, dan infrastruktur
Lingkungan
§  Flora
§  Fauna
§  Daerah sensitif
§  Polusi tanah, air dan udara
Data Sosial Ekonomi
Kelembagaan
§  Struktur organisasi pemerintahan
§  Struktur organisasi masyarakat
§  Persepsi masyarakat
§  Pola tindakan masyarakat
Kependudukan
§  Jumlah penduduk, saat ini dan yang akan datang
§  Karakteristik penduduk
§  Penyebaran penduduk
Sosial
§  Sejarah
§  Sosiologis
§  Antropologis
Ekonomi
§  Pasar, saat ini dan potensinya
§  Aktifitas ekonomi
§  Kendala
§  Pendapatan (distribusi dan tenaga kerja)


a)    Data Kondisi Fisik
Data fisik dimaksudkan untuk menampilkan potensi sumberdaya alam  yang ada pada wilayah studi. Beberapa data fisik yang akan meliputi data sumberdaya lahan, geografi fisik, hidrometerologi, dan lingkungan (ekologi).
(1)  Data sumberdaya lahan
      Data sumberdaya lahan sangat penting untuk pengembangan wilayah baik untuk irigasi maupun sektor lainnya. Dari data ini dapat diketahui kesesuaian lahan untuk berbagai peruntukan. Data sumberdaya lahan yang dikumpulkan berupa peta klasifikasi lahan dan kesesuainnya untuk berbagai peruntukan. Data ini sangat penting untuk memberi gambaran rencana atau komoditas yang sesuai untuk dikembangkan pada daerah aliran sungai bersangkutan.
(2)  Data geografi fisik
      Data geografi fisik terkait dengan berbagai bentuk peta yang menggambarkan bentang alam dan infrastruktur yang ada. Data ini sangat penting dalam rangka memberi intepretasi fisik, topografi, wilayah sungai, batas administrasi, spasial, daerah perdesaan, perkotaan, dan tata guna lahan.
(3)  Data hidrologi
      Data hidrologi berkait dengan potensi hidrologis pada daerah aliran sungai setempat. Data hidrologi dapat berupa data hujan, penguapan, aliran permukaan, dan aliran air tanah. Data ini bermanfaat untuk memberi informasi potensi hidrometereologis daerah yang akan dikembangkan serta menunjang analisis hidrologi. Informasi tersebut sangat dibutuhkan bagi perencanaan sempadan sungai.
(4)  Data lingkungan
      Data lingkungan (ekologi) berkait dengan kondisi lingkungan dan hubungan antara organisme/makhluk hidup dengan lingkungannya. Data ini dapat berupa inventarisasi flora dan fauna yang ada di wilayah tersebut. Data lingkungan juga dapat digunakan sebagai kondisi batas berkaitan suatu rencana kegiatan.

b)    Data Sosial Ekonomi Budaya
Data sosial ekonomi meliputi kelembagaan, demografi, sosial, ekonomi, dan budaya. Berikut ini disampaikan uraian beberapa jenis data sosial ekonomi yang hendak dikumpulkan.
(1)  Data kelembagaan
      Data kelembagaan diperlukan untuk mengetahui berbagai institusi atau organisasi dalam pengelolaan DAS yang dapat diterima oleh masyarakat. Data kelembagaan yang dikumpulkan meliputi 4 (empat) jenis, yaitu (1) struktur masyarakat dan interaksi antar masyarakat yang ada, (2) komposisi kepemimpinan masyarakat, (3) persepsi masyarakat terhadap permasalahan yang dihadapi, dan (4) pola tindakan masyarakat. Data ini dikumpulkan secara langsung di lapangan dengan cara responden/wawancara.
(2)  Data kependudukan
      Data kependudukan yang dimaksud dalam studi ini adalah data jumlah penduduk, kepadatan dan tingkat pertumbuhannya. Data ini digunakan untuk melakukan estimasi dan prediksi jumlah penduduk pada waktu yang akan datang. Data kependudukan diperoleh dari Kantor Statistik.
(3)  Data sosial, budaya dan ekonomi
      Data sosial, budaya dan ekonomi dimaksudkan untuk memahami karakteristika lokal dari suatu wilayah yang masing-masing mempunyai ciri spesifik. Data sosial budaya dimaksudkan untuk menganalisis kondisi-kondisi antropologis dan sosiologis dari daerah yang diteliti. Hal ini sangat penting untuk dilakukan, karena masing-masing wilayah mempunyai karakteristika yang spesifik menyangkut aspek sosial, ekonomi dan budaya.

Justifikasi Teknis


Justifikasi teknis merupakan usulan yang dibuat konsultan dalam rangka untuk terbitnya revisi kontrak (addendum).
Justifikasi teknis dibuat dikarenakan:
1.    Adanya rencana perubahan spesifikasi barang yang akan digunakan pada pekerjaan dikarenakan munculnya kendala yang tidak diduga sebelumnya pada saat pendesainan.
2.    Adanya penambahan ataupun pengurangan item pekerjaan terhadap desain rencana yang dimaksudkan untuk mendukung maupun menyempurnakan fungsi bangunan
Pembuatan justifikasi teknis dilakukan dengan memperhatikan kelayakan, kemudahan pengerjaan maupun kendala yang ada di lapangan terhadap spesifikasi dan dimaksudkan untuk menyempurnakan desain yang ada dengan mengedepankan fungsi utama bangunan.

Rincian Tugas dan Tanggung jawab Tim Leader

1     Rincian Tugas dan Tanggung jawab Tim Leader
a)      Mengkoordinir seluruh tenaga ahli dan tenaga pendukung dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja, baik di bidang manajerial maupun teknis secara keseluruhan;
b)      Menyiapkan rencana kerja konsultan serta mengontrol pelaksanaannya supaya tetap sesuai dengan Jadual Rencana Kerja;
c)       Menyiapkan dokumen Quality Assurance (Rencana Mutu Kontrak) untuk acuan pemantauan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja;
d)      Menyusun perencanaan kegiatan kegiatan  secara detail dan menyeluruh;
e)      Melaksanakan koordinasi intensif dan periodik baik secara internal maupun eksternal mengenai pelaksanaan pekerjaan serta berbagai aspek, yang terkait.
f)        Bersama tim melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan , menyusun laporan serta melaksanakan diskusi;
g)       Melakukan pemeriksaan (controlling) terhadap hasil kegiatan sebelum disajikan kepada pihak Pengguna Jasa.
                   h)    Bertanggung jawab penuh atas hasil pekerjaan secara keseluruhan kepada pihak 
                          Pengguna Jasa, baik dalam ketepatan waktu maupun mutu secara teknis maupun non
                          teknis (administrasi); 

Rencana Kerja Pekerjaan Embung


Rencana kerja menyajikan beberapa jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam pekerjaan ( Embung ).
      
Rencana Kerja merupakan bagian dari implementasi dari Metodologi yang sudah dijelaskan pada bagian bab sebelumnya, rangkain kegiatan tersebut meliputi :
þ  Persiapan
þ  Mobilisasi (Personil, Alat)
þ  Pengumpulan Data (Sekunder dan Penunjang)
þ  Orientasi lapangan (survey pendahuluan)
þ  Studi potensi dan pemanfaatan air embung
þ  Diskusi Laporan Pendahuluan
þ  Survey Pemetaan
þ  Penyelidikan Mekanika Tanah & Pengambilan Sampel
þ  Survey hidrologi
þ  Analisis (Pengukuran, Laboratorium, Hidrologi dan Hidrolika)
þ  Draft System Planning / Perancanaan Teknis
þ  Diskusi Laporan Sela (Interim Report)
þ  Draft Konsep Laporan Akhir.
þ  Diskusi Laporan Akhir
þ  Laporan Akhir (Final Report)
þ  Berita Acara Laporan Akhir
þ  Selesai

Contact Form

Name

Email *

Message *